Advertisement

Responsive Advertisement

Redupnya Sinar Mentari

        Pagi ini tepat ketika semua orang sedang sibuk dengan pekerjaannya, aku melihat seorang anak kecil usia sembilan atau sepuluh tahun sedang asik mengerjakan beberapa soal yang terlihat begitu menantang dirinya. Matanya berbinar setiap kali berhasil menyelesaikan satu soal. Sesekali ia tersenyum dan memberitahu teman sebangkunya bahwa ia berhasil menyelesaikan satu soal yang rumit. Merekapun saling adu pencapaian satu sama lain dengan riang. 

        Kulihat lagi dengan seksama, anak itu memakai baju yang lusuh, kulit kering, dan sepatu yang sudah seharusnya diganti pada semester lalu. Peralatan tulis yang seadanya namun semangatnya menggebu. Tugas dan pekerjaan rumah selalu ia selesaikan dengan baik. Ada satu hal yang membuatku terganggu, kondisi keluarga yang mungkin sedikit kurang mendukung. Bukan karena tidak  ingin mendukung, namun memang karena keadaan sulit yang membuat mereka enggan.

        Aku jadi ingat seseorang yang bernasib sama. Anak yang selalu menduduki peringkat pertama di kelas, tangkas dan andal dalam menguasai pelajaran, namun tumbuh dari keluarga yang kurang beruntung. Saat itu belum semaju sekarang, informasi terbatas dan semua hal tentu saja butuh biaya. Sangat disayangkan anak dengan potensi sebesar itu terhalang oleh keadaan. Saat ini yang kutahu ia bekerja apa saja untuk menyambung hidup. Masih sama dengan energi yang positif, semoga usahanya lancar dan gemilang. Anak yang seharusnya bersinar namun hari demi hari kalah dengan keadaan. Cahayanya semakin meredup. Entah akan berapa banyak anak lagi yang akan bernasib sama, namun semoga tidak. Anak-anak cerdas nan berpotensi berhak untuk mengubah hidup mereka menjadi lebih baik :)

Posting Komentar

0 Komentar